Note :
Apa yang tertulis semuanya adalah hasil rangkaian imajinasi saya di waktu
senggang, semoga kalian bisa menikmati apa yang tertulis.
Satu hari memang begitu cepat namun dalam satu hari banyak hal yang
begitu menyenangkan atau pun menyebalkan.
Semua orang pasti pernah berharap hari itu dapat terulang jika hari itu
menyenangkan atau pun dapat dilupakan saat hari itu begitu amat menyebalkan.
Namun kenyataanya waktu tak pernah tercipta untuk terulang meski kita
melakukan hal sama namun tetap saja tak seperti saat pertama pada hari itu.
Dan untuk melupakan yang menurut kita menyebalkan tak semudah lupa seperti
kita lupa membawa sesuatu.
Untuk itu hargai setiap hari
yang berlalu menjadi sebuah pelajaran dan lakukan hal yang menjadi sesuatu yang
bermakna untuk dikenang hari esok atau pun di masa depan.
Selamat Membaca :)
Saat kamu membaca ini
mungkin kamu akan ingat saat itu, waktu dimana saat yang amat dirindukan untuk terulang,
meski kita sepakat untuk melupakan semuanya.
“Hay” adalah satu
kata yang mengawali cerita ini, tiba-tiba tangan yang lembut menepuk pundakku
yang sedang duduk di tangga menuju pembelian tiket masuk monas.
“Kamu lagi ngapain
duduk disini? Kenapa gak masuk?” Tanya seorang wanita yang sampai saat ini tak
pernah ku tahu namanya
.
.
“Eh, ini lagi
istirahat dulu soalnya baru sampe. Cape perjalanan jauh, macet plus panas.”
Jawabku lalu berdiri dan saling bertatap dengannya.
“Oh, emang kamu
darimana? Mau bareng sama aku masuknya?” Pertanyaan yang aneh dari seorang
wanita yang tak pernah kenal sebelumnya.
“Aku dari daerah Buaran
Jaktim, dan baru pertama kali ke monas.”
“Oh, baru pertama
kali. Aku sih sering kesini tapi sama orang tuaku tapi kalau sendirian baru
sekarang.hehe”
“Oh, kalau kamu asli
dari sini?”
“Iya, rumah ku deket
dari sini. Kalau kamu sendiri?”
“Kalau aku sih dari
luar kota. Jadi baru pertama kali aku kesini.”
“Oh, kalau gitu masuk
bareng yuk? Ayo!” Tanganmu yang lembut tiba-tiba menarik tanganku.
“Eh.”
Dan saat itu aku berkata dalam hati
”Mimpi apa aku semalam, pertama kalinya ke
monas eh malah ketemu orang aneh.”
“Kamu kenapa? Mikirin
yang aneh-aneh yah.haha” Tanyanya yang masih memegang tanganku saat menuju
tempat pembelian tiket.
“Ah kamu tahu aja.haha
Soalnya kita kan belum kenal tapi kamu udah pegang tanganku tanpa sedikit pun
malu. Lagi pula kita kan bukan siapa-siapa, kenalan juga belum tapi kamu udah
narik-narik tanganku kayak orang akrab aja.”
“Haha, santai aku gak
bakalan nyulik kamu terus mutilasi kamu abis itu buang kamu ke kali. Dan lagi tak
perlu suatu hubungan untuk membuat sebuah cerita yang menyenangkan.”
“Maksudnya? malah
jawab gak jelas.” Tanya heranku yang tak mengerti apa yang ia katakan saat itu.
“Ouh iya, Kalau boleh tahu nama kamu siapa?”
Tanyaku padanya.
“Hehe, namaku...
Kasih tahu gak yah.”
“Siapa?” Jawabku sedikit
penasaran.
“Bunga.”
“Bunga?”
“Itu bukan nama yang
sebenarnya, jadi aku akan panggil kamu kumbang.”
“Hah, kamu wanita
aneh macam apa. Tanya nama malah jawab aneh.”
“Hehe, Udahlah gak
penting, yang terpenting untuk hari ini apa yang kita lakuin menjadi sesuatu
yang indah untuk dikenang.”
“Maksudnya?” Tanyaku
karna tak mengerti setiap apa yang kamu katakan.
“Udahlah jangan
terlalu dipikirin, ya udah aku beli tiket dulu. Kamu tunggu disini.”
Kamu pun bergegas berlari menuju pembelian tiket.
Kamu pun bergegas berlari menuju pembelian tiket.
“Mba tiketnya 2 yah,
biasa aku kan masih kuliah jadi harga pelajar.” Katamu pada mba penjaga tiket.
“Iya mba, sekarang
sama pacar mba?” Tanya mba kasir padamu yang sedang mengeluarkan uang dari
dompetmu.
“Iya mba, pacar baru.
Ganteng gak mba? Tapi dia nyebelin nanya mulu kayak wartawan infotaiment.”
“Ganteng mba. Maklum
mba namanya juga pacar baru. Ini mba tiketnya. Selamat bersenang-senang.”
“Iya mba makasih.”
Kamu pun kembali menghampiiriku
dan kembali menarik tanganku dengan tiba-tiba tanpa rasa malu.
“Ayo kumbang kita
masuk!”
“Kamu apa-apaan
bilang kita pacaran sama mba penjaga tiket. Kenal aja baru beberapa menit yang
lalu.” Tanyaku padamu yang menarikku masuk.
“Udahlah jangan
diambil pusing, kita mau langsung naik atau di lantai 1 dulu?”
“Terserah kamulah,
aku baru pertama kesini jadi aku gak tahu.” Jawabku dengan nada kesalku.
“Ya udah kita naik
langsung aja. Jangan marah gitu dong, kita kan kesini buat senang-senang bukan
buat marahan.”
“Tapi kan.” Belum sempatku menyelesaikan perkataanku kamu memotongnya.
“Jangan tapi-tapian
pokoknya kamu harus senyum dan jangan marah atau pun cemberut ok!”
“Iya cewe aneh!”
“Gini nih kalau
senyum biar aku tunjukin caranya.” Kedua tanganmu menarik pipiku sehingga
mulutku seperti tersenyum.
“Aw, sakit tahu."
“Ayo kita naik.” Kamu
pun kembali menariku tanpa rasa ragu sedikit pun.
Saat itu kita pun
langsung menuju lift untuk naik ke puncak monas, namun sebelum naik keatas kita
harus mengantri dulu karna banyak yang lain juga yang akan naik lift.
“Waduh, rame banget?
Perasaan tadi diluar sepi tapi kenapa disini sampe ngantri gini?” Tanya heranku
karna memang pertama baru ke monas.
“Ya emang rame,
apalagi kalau hari libur pasti lebih rame dari ini. Kamseupay kamu.haha” Jawabmu.
Dan seketika semua
yang mengatri melihat kita berdua karna tawamu yang begitu aneh.
“Kamu ketawa aneh banget kayak kuntilanak, malu tahu.”
“Kenapa harus malu,
setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kenapa musti
malu?”
“Hmmmmm iya sih tapi
ketawanya jangan gitu juga kali.”
“Ya udah, kamu pengen
cepet naik liftnya gak? Biar kita cepet masuknya, kamu diem dan ikutin apa yang aku
lakuin.”
“Mau sih tapi kita
kan harus ngantri. Emang kamu mau ngapain?”
“Udah lihatin aja.”
Aku pun sedikit heran
apa yang akan kamu lakukan, namun tiba-tiba
“Semuanya tolong duluin
aku dulu dong, soalnya aku lagi hamil muda dan suamiku ini parnoan banget kalau
lihat aku lemes suamiku suka langsung pingsan.”
Tanpa aba-aba kamu
berkata yang tak pernah aku bayangkan dan hasilnya
Semua orang langsung
melihat kita berdua dan mba-mba yang ada didepanku langsung berkata
“Mas silakan duluan
aja gak apa-apa, jangan terlalu parnoan, biasa aja namanya juga baru pertama
hamil. Silakan mas duluan aja.”
“Ah iya mba makasih
banyak.” Tanganmu kembali menarikku menuju lift untuk naik ke puncak monas.
“Maaf ya mas, aku
bikin gaduh.hehe” Katamu pada penjaga lift.
“Iya mba gak apa-apa,
ternyata mba udah punya suami dan sekarang lagi hamil muda. Hati-hati ya mba
jangan kecapean. Selamat bersenang-senang. Silakan masuk mba.” Jawab penjaga
lift yang sepertinya akrab denganmu.
“Iya mas, makasih
banyak.” Jawabmu lalu menarikku untuk masuk lift.
“Ini hari sial atau
apa? Dan mimpi apa aku semalem bisa bertemu wanita yang aneh seperti ini,
kenapa pertama datang ke monas malah seperti ini?” Dalam hatiku bergumam yang
tak pernah menyangka pengalaman pertama pergi ke monas akan seperti ini.
“Kumbang kita udah
sampe nih, ayo lihat kesana soalnya bagus dan anginya juga enak.” Katamu untuk
mengajakku melihat-lihat dari lantai atas monas.
“Eh Cewe aneh. kamu ini, Aku baru pertama
kesini tapi malah bikin aku mungkin gak pernah kesini lagi.”
“Emang kenapa?”
“Pertama kamu
ngaku-ngaku kita pacaran terus kamu hamil, gimana aku gak malu coba?”
“Kalau beneran aku
suka sama kamu dan sekarang aku lagi hamil gimana?”
“Hah beneran kamu
hamil?”
“Enggak kok aku gak
hamil bercanda doang, tapi kalau suka mungkin.hehe”
“Hmmmm kamu ini cewe aneh
yang pernah aku temuin.”
Tiba-tiba kamu
kembali menarik tanganku dan berkata
“Aku pengen lihat pake itu tapi tangganya lagi di pake sama orang lain, boleh minta tolong gak kamu jadi tangganya biar aku sampe pake alat itu.”
“Aku pengen lihat pake itu tapi tangganya lagi di pake sama orang lain, boleh minta tolong gak kamu jadi tangganya biar aku sampe pake alat itu.”
“Haaaah, ogah berat
tau, dikira aku apaan.”
“aaaakhhhaakkhhh
suamiku jahat masa aku pengen lihat pake teropong tapi gak mau jadi tangganya,
soalnya tangganya lagi dipake orang lain.” Tiba-tiba kamu merengek sejadinya saat itu.
Dan hasilnya seperti
yang diduga semua orang yang berada di lantai atas langsung melihat kita berdua
dan saat itu aku seperti penjahat yang ketahuan mencuri dan siap di gebukin
warga.
“Mas istrinya lagi
hamil muda jadi suka ngidam jadi harus di turutin kalau gak di turutin nanti
anaknya rewel loh.” Jawab mba-mba yang sepertinya begitu marah padaku.
“Iya mba maaf.”
Jawabku yang begitu malu dan tak pernah menyangka kamu akan melakukan hal lebih
aneh lagi.
“Bunga ayo naik ke
punggungku.”
“Iya makasih suamiku
tercinta. Kamu memang sangat baik banget.”
Dan kamu pun menaiki
punggungku untuk melihat Kota Jakarta menggunkan teropong.
“Wah ternyata kelihatan lebih jelas yah kota Jakarta ini kalau pake ini. Entah sampai kapan aku ada disini, suatu hari nanti aku akan pergi dan tak akan pernah kembali kesini lagi, mungkiin aku akan sangat merindukan tempat ini.”
“Wah ternyata kelihatan lebih jelas yah kota Jakarta ini kalau pake ini. Entah sampai kapan aku ada disini, suatu hari nanti aku akan pergi dan tak akan pernah kembali kesini lagi, mungkiin aku akan sangat merindukan tempat ini.”
Tiba-tiba air mata
turun dari matamu dan berjatuhan ke lantai.
“Air mata? Kenapa dia
menangis?”
Saat itu aku
penasaran dan langsung menanyakan hal itu.
“Bunga kamu
menangis?”
“Enggak kok, tadi Cuma
kelilipan jadi mungkin kayak nangis.hehe” Meski mata yang merah seperti
menyangkal perkataamu itu.
“Oh iya, foto bareng
yuk. Buat kenang-kenangan kita.” Pintamu lalu mengeluarkan handphonemu dari
tasmu.
“Hah? Ya udah tapi
sekali aja yah, soalnya aku gak suka di foto.” Jawabku sedikit malu karna aku
memang jarang difoto dan lagi handphoneku memang tak ada kameranya.
“Ya kalau itu gimana
hasil bagus enggaknya.hehe”
“Iya deh gimana kamu
biar cepet.” Jawabku dan entah mengapa aku selalu mengikuti apa yang kamu katakan saat itu.
Dan saat itu kita
menikmati setiap detiknya dengan canda, tawa yang sangat amat di rindukan
sampai saat ini.
Waktu pun berlalu
begitu cepat hingga tanpa terasa matahari pun mulai menghilang
“Kita turun yuk
soalnya udah sore, sebentar lagi aku mau pulang.” Katamu yang melihat jam
tanganmu.
“Iya.” Jawabku.
Kita pun menuju lift
untuk turun.
Sesampainya dilantai 1
kamu kembali langsung menarik tanganku untuk keluar.
Hingga sampai
ditempat untuk melihat Kota Jakarta di lantai 1 dan kamu berkata
“Kumbang tempat ini
menjadi tempat favoritku, karna aku bisa lihat senja yang begitu indah dari
sini. Tapi kayaknya hari ini senja gak datang karna hari ini langit begitu
mendung seperti mau hujan. Huft.”
Katamu yang sedikit
sedih karna senja tak muncul hari itu.
“Hmmmm enak juga
disini adem, anginnya sepoy-sepoy.”
Jawabku untuk
menyairkan suasana.
“Bener enakkan jadi
aku gak salah pilih tempat.hehe”
“Kamu kalau senyum
manis juga.”
“Akh kamu malah
gombal. Kamu udah punya pacar?”
“Hehe sedikit. Belum
emang kenapa?”
“Gak Cuma nanya
doang.hehe”
“Kamu selalu berkata
hal yang gak pernah aku mengerti. Dasar bunga cewek aneh.haha”
“Hahaha” Kita pun
tertawa bersama saat itu.
“Cinta pertama,
menurutmu cinta pertama itu rasanya seperti apa kamu tahu enggak?”
“Aku gak tahu karna
belum merasakan tapi menurutku cinta pertama adalah cinta yang tak bisa
dilupakan."
“Hmmmmm, Oh iya, apa
yang kita lakuin hari ini aku minta maaf yah bikin malu dan repotin kamu.”
“Hmmmmm Iya gak
masalah. Aku pikir hari ini bakalan jadi hari yang menyebalkan pertama
ke monas tapi ternyata seru juga, dengan tingkahmu yang menyebalkan dan semua
ini gak mungkin bisa untuk dilupain. Tapi lain kali jangan melakukan hal yang
lebih aneh dari ini yah. Ayo kita pulang karna sepertinya akan segera hujan.”
Aku pun memegang tanganmu lalu menarikmu untuk keluar.
“Kumbang, aku boleh
minta tolong sesuatu enggak?” Tanyamu yang sedang duduk ditangga tempat pertama
kali kita bertemu.
“Minta tolong apa?”
Tanyaku karna penasaran.
“Tolong lupain apa yang
kita lakuin hari ini, anggap aja semua ini hanya mimpi.”
“Hah maksudnya?”
Tanyaku yang tak mengerti dengan perkataanmu.
“Ya lupain apa yang
kita lakukan hari ini. Jika suatu saat waktu mampu mempertemukan kita lagi
mungkin kamu akan mengerti tentang sesuatu.”
“Tentang sesuatu?
Kamu malah bikin aku pusing aja wanita aneh.” Aku pun semakin tak mengerti apa
yang kamu katakan hari itu.
“Suatu saat kamu akan
menyadarinya. Wah hujan.” Katamu yang melihat keluar dan ternyata hujan begitu
lebat dengan tiba-tiba.
“Kenceng banget
hujannya ya. Eh iya Bunga. Baiklah kalau gitu, lagi pula aku gak tau nama atau
pun tentang kamu jadi buat apa mengingat hari ini. Hari ini mungkin hari
tersial dalam hidupku, karna bertemu orang aneh sepertimu yang tiba-tiba datang
lalu mengaku pacar dan istriku.”
“Sepertinya saatnya
untuk pulang, waktu menujukan jam 16.14.” Kamu pun melihat jam ditanganmu dan
menghiraukan perkataanku saat itu.
“Eh, tapi di luar kan
hujan, nanti aja nunggu reda, kalau sekarang kamu bisa sakit dan lagi kalau ada
apa-apa denganmu gimana?” Tanyaku untuk melarangmu pulang ditengah derasnya
hujan.
“Untuk apa kamu
perhatian padaku, sedangkan kamu saudara bukan, pacar bukan dan kita bukan
siapa-siapa. Jadi jangan sok perhatian. Udah yah aku pulang duluan.” Dengan
bergegas kamu berlari melawan hujan yang begitu deras.
“Jika waktu mampu mempertemukan kita lagi, saat itu adalah saat yang
paling aku tunggu. Dah.”
Kata itu adalah kata terakhir pertemuan kita yang kamu katakan sambil berlari, melambaikan tanganmu dan senyum yang khas yang mungkin aku rindukan sampai saat ini.
1 Tahun berlalu dari
hari itu, janji kita untuk saling melupakan hari itu.
Aku tak pernah mampu
melupakannya, dan apakah kamu mampu melupakannya atau kamu pun tak mampu melupakannya?
Aku merindukanmu,,,
Apakah kamu juga
merindukanku?
Seseorang yang aku sebut
“Bunga”
TO BE CONTINUE
RSS Feed
Twitter
Selasa, November 03, 2015
Unknown


Posted in
0 komentar:
Posting Komentar