Selasa, 03 November 2015



Note :


Apa yang tertulis semuanya adalah hasil rangkaian imajinasi saya di waktu senggang, semoga kalian bisa menikmati apa yang tertulis.


Satu hari memang begitu cepat namun dalam satu hari banyak hal yang begitu menyenangkan atau pun menyebalkan.


Semua orang pasti pernah berharap hari itu dapat terulang jika hari itu menyenangkan atau pun dapat dilupakan saat hari itu begitu amat menyebalkan.


Namun kenyataanya waktu tak pernah tercipta untuk terulang meski kita melakukan hal sama namun tetap saja tak seperti saat pertama pada hari itu.


Dan untuk melupakan yang menurut kita menyebalkan tak semudah lupa seperti kita lupa membawa sesuatu.


 Untuk itu hargai setiap hari yang berlalu menjadi sebuah pelajaran dan lakukan hal yang menjadi sesuatu yang bermakna untuk dikenang hari esok atau pun di masa depan.


Selamat Membaca :)




Saat kamu membaca ini mungkin kamu akan ingat saat itu, waktu dimana saat yang amat dirindukan untuk terulang, meski kita sepakat untuk melupakan semuanya.


“Hay” adalah satu kata yang mengawali cerita ini, tiba-tiba tangan yang lembut menepuk pundakku yang sedang duduk di tangga menuju pembelian tiket masuk monas.


“Kamu lagi ngapain duduk disini? Kenapa gak masuk?” Tanya seorang wanita yang sampai saat ini tak pernah ku tahu namanya
.

“Eh, ini lagi istirahat dulu soalnya baru sampe. Cape perjalanan jauh, macet plus panas.” Jawabku lalu berdiri dan saling bertatap dengannya.

“Oh, emang kamu darimana? Mau bareng sama aku masuknya?” Pertanyaan yang aneh dari seorang wanita yang tak pernah kenal sebelumnya.

“Aku dari daerah Buaran Jaktim, dan baru pertama kali ke monas.”

“Oh, baru pertama kali. Aku sih sering kesini tapi sama orang tuaku tapi kalau sendirian baru sekarang.hehe”

“Oh, kalau kamu asli dari sini?”

“Iya, rumah ku deket dari sini. Kalau kamu sendiri?”

“Kalau aku sih dari luar kota. Jadi baru pertama kali aku kesini.”

“Oh, kalau gitu masuk bareng yuk? Ayo!” Tanganmu yang lembut tiba-tiba menarik tanganku.

“Eh.”

Dan saat itu aku berkata dalam hati

 ”Mimpi apa aku semalam, pertama kalinya ke monas eh malah ketemu orang aneh.”

“Kamu kenapa? Mikirin yang aneh-aneh yah.haha” Tanyanya yang masih memegang tanganku saat menuju tempat pembelian tiket.

“Ah kamu tahu aja.haha Soalnya kita kan belum kenal tapi kamu udah pegang tanganku tanpa sedikit pun malu. Lagi pula kita kan bukan siapa-siapa, kenalan juga belum tapi kamu udah narik-narik tanganku kayak orang akrab aja.” 

“Haha, santai aku gak bakalan nyulik kamu terus mutilasi kamu abis itu buang kamu ke kali. Dan lagi tak perlu suatu hubungan untuk membuat sebuah cerita yang menyenangkan.”

“Maksudnya? malah jawab gak jelas.” Tanya heranku yang tak mengerti apa yang ia katakan saat itu.

 “Ouh iya, Kalau boleh tahu nama kamu siapa?” Tanyaku padanya.

“Hehe, namaku... Kasih tahu gak yah.”

“Siapa?” Jawabku sedikit penasaran.

“Bunga.”

“Bunga?”

“Itu bukan nama yang sebenarnya, jadi aku akan panggil kamu kumbang.”

“Hah, kamu wanita aneh macam apa. Tanya nama malah jawab aneh.”

“Hehe, Udahlah gak penting, yang terpenting untuk hari ini apa yang kita lakuin menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang.”

“Maksudnya?” Tanyaku karna tak mengerti setiap apa yang kamu katakan.

“Udahlah jangan terlalu dipikirin, ya udah aku beli tiket dulu. Kamu tunggu disini.”
 Kamu pun bergegas berlari menuju pembelian tiket.  

“Mba tiketnya 2 yah, biasa aku kan masih kuliah jadi harga pelajar.” Katamu pada mba penjaga tiket.

“Iya mba, sekarang sama pacar mba?” Tanya mba kasir padamu yang sedang mengeluarkan uang dari dompetmu.

“Iya mba, pacar baru. Ganteng gak mba? Tapi dia nyebelin nanya mulu kayak wartawan infotaiment.”

“Ganteng mba. Maklum mba namanya juga pacar baru. Ini mba tiketnya. Selamat bersenang-senang.”

“Iya mba makasih.”

Kamu pun kembali menghampiiriku dan kembali menarik tanganku dengan tiba-tiba tanpa rasa malu.

“Ayo kumbang kita masuk!” 

“Kamu apa-apaan bilang kita pacaran sama mba penjaga tiket. Kenal aja baru beberapa menit yang lalu.” Tanyaku padamu yang menarikku masuk. 

“Udahlah jangan diambil pusing, kita mau langsung naik atau di lantai 1 dulu?”

“Terserah kamulah, aku baru pertama kesini jadi aku gak tahu.” Jawabku dengan nada kesalku.

“Ya udah kita naik langsung aja. Jangan marah gitu dong, kita kan kesini buat senang-senang bukan buat marahan.”

“Tapi kan.” Belum sempatku menyelesaikan perkataanku kamu memotongnya.

“Jangan tapi-tapian pokoknya kamu harus senyum dan jangan marah atau pun cemberut ok!”

“Iya cewe aneh!”

“Gini nih kalau senyum biar aku tunjukin caranya.” Kedua tanganmu menarik pipiku sehingga mulutku seperti tersenyum. 

“Aw, sakit tahu."

“Ayo kita naik.” Kamu pun kembali menariku tanpa rasa ragu sedikit pun. 

Saat itu kita pun langsung menuju lift untuk naik ke puncak monas, namun sebelum naik keatas kita harus mengantri dulu karna banyak yang lain juga yang akan naik lift.

“Waduh, rame banget? Perasaan tadi diluar sepi tapi kenapa disini sampe ngantri gini?” Tanya heranku karna memang pertama baru ke monas.

“Ya emang rame, apalagi kalau hari libur pasti lebih rame dari ini. Kamseupay kamu.haha” Jawabmu.

Dan seketika semua yang mengatri melihat kita berdua karna tawamu yang begitu aneh.


“Kamu ketawa aneh banget kayak kuntilanak, malu tahu.”

“Kenapa harus malu, setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kenapa musti malu?”

“Hmmmmm iya sih tapi ketawanya jangan gitu juga kali.”

“Ya udah, kamu pengen cepet naik liftnya gak? Biar kita cepet masuknya, kamu diem dan ikutin apa yang aku lakuin.”

“Mau sih tapi kita kan harus ngantri. Emang kamu mau ngapain?”

“Udah lihatin aja.”

Aku pun sedikit heran apa yang akan kamu lakukan, namun tiba-tiba

“Semuanya tolong duluin aku dulu dong, soalnya aku lagi hamil muda dan suamiku ini parnoan banget kalau lihat aku lemes suamiku suka langsung pingsan.”

Tanpa aba-aba kamu berkata yang tak pernah aku bayangkan dan hasilnya

Semua orang langsung melihat kita berdua dan mba-mba yang ada didepanku langsung berkata

“Mas silakan duluan aja gak apa-apa, jangan terlalu parnoan, biasa aja namanya juga baru pertama hamil. Silakan mas duluan aja.”

“Ah iya mba makasih banyak.” Tanganmu kembali menarikku menuju lift untuk naik ke puncak monas.

“Maaf ya mas, aku bikin gaduh.hehe” Katamu pada penjaga lift.

“Iya mba gak apa-apa, ternyata mba udah punya suami dan sekarang lagi hamil muda. Hati-hati ya mba jangan kecapean. Selamat bersenang-senang. Silakan masuk mba.” Jawab penjaga lift yang sepertinya akrab denganmu.


“Iya mas, makasih banyak.” Jawabmu lalu menarikku untuk masuk lift.

“Ini hari sial atau apa? Dan mimpi apa aku semalem bisa bertemu wanita yang aneh seperti ini, kenapa pertama datang ke monas malah seperti ini?” Dalam hatiku bergumam yang tak pernah menyangka pengalaman pertama pergi ke monas akan seperti ini.

“Kumbang kita udah sampe nih, ayo lihat kesana soalnya bagus dan anginya juga enak.” Katamu untuk mengajakku melihat-lihat dari lantai atas monas.

   “Eh Cewe aneh. kamu ini, Aku baru pertama kesini tapi malah bikin aku mungkin gak pernah kesini lagi.”

“Emang kenapa?”

“Pertama kamu ngaku-ngaku kita pacaran terus kamu hamil, gimana aku gak malu coba?”

“Kalau beneran aku suka sama kamu dan sekarang aku lagi hamil gimana?”

“Hah beneran kamu hamil?”

“Enggak kok aku gak hamil bercanda doang, tapi kalau suka mungkin.hehe”

“Hmmmm kamu ini cewe aneh yang pernah aku temuin.”

Tiba-tiba kamu kembali menarik tanganku dan berkata
 “Aku pengen lihat pake itu tapi tangganya lagi di pake sama orang lain, boleh minta tolong gak kamu jadi tangganya biar aku sampe pake alat itu.”

“Haaaah, ogah berat tau, dikira aku apaan.”

“aaaakhhhaakkhhh suamiku jahat masa aku pengen lihat pake teropong tapi gak mau jadi tangganya, soalnya tangganya lagi dipake orang lain.” Tiba-tiba kamu merengek sejadinya saat itu.

Dan hasilnya seperti yang diduga semua orang yang berada di lantai atas langsung melihat kita berdua dan saat itu aku seperti penjahat yang ketahuan mencuri dan siap di gebukin warga.

“Mas istrinya lagi hamil muda jadi suka ngidam jadi harus di turutin kalau gak di turutin nanti anaknya rewel loh.” Jawab mba-mba yang sepertinya begitu marah padaku.

“Iya mba maaf.” Jawabku yang begitu malu dan tak pernah menyangka kamu akan melakukan hal lebih aneh lagi.

“Bunga ayo naik ke punggungku.” 

“Iya makasih suamiku tercinta. Kamu memang sangat baik banget.”

Dan kamu pun menaiki punggungku untuk melihat Kota Jakarta menggunkan teropong. 
 “Wah ternyata kelihatan lebih jelas yah kota Jakarta ini kalau pake ini. Entah sampai kapan aku ada disini, suatu hari nanti aku akan pergi dan tak akan pernah kembali kesini lagi, mungkiin aku akan sangat merindukan tempat ini.”

Tiba-tiba air mata turun dari matamu dan berjatuhan ke lantai.

“Air mata? Kenapa dia menangis?” 

Saat itu aku penasaran dan langsung menanyakan hal itu.

“Bunga kamu menangis?”

“Enggak kok, tadi Cuma kelilipan jadi mungkin kayak nangis.hehe” Meski mata yang merah seperti menyangkal perkataamu itu.

“Oh iya, foto bareng yuk. Buat kenang-kenangan kita.” Pintamu lalu mengeluarkan handphonemu dari tasmu.

“Hah? Ya udah tapi sekali aja yah, soalnya aku gak suka di foto.” Jawabku sedikit malu karna aku memang jarang difoto dan lagi handphoneku memang tak ada kameranya.

“Ya kalau itu gimana hasil bagus enggaknya.hehe”

“Iya deh gimana kamu biar cepet.” Jawabku dan entah mengapa aku selalu mengikuti apa yang kamu katakan saat itu.

Dan saat itu kita menikmati setiap detiknya dengan canda, tawa yang sangat amat di rindukan sampai saat ini.




Waktu pun berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa matahari pun mulai menghilang

“Kita turun yuk soalnya udah sore, sebentar lagi aku mau pulang.” Katamu yang melihat jam tanganmu.

“Iya.” Jawabku.

Kita pun menuju lift untuk turun.

Sesampainya dilantai 1 kamu kembali langsung menarik tanganku untuk keluar.

Hingga sampai ditempat untuk melihat Kota Jakarta di lantai 1 dan kamu berkata

“Kumbang tempat ini menjadi tempat favoritku, karna aku bisa lihat senja yang begitu indah dari sini. Tapi kayaknya hari ini senja gak datang karna hari ini langit begitu mendung seperti mau hujan. Huft.” 

Katamu yang sedikit sedih karna senja tak muncul hari itu.

“Hmmmm enak juga disini adem, anginnya sepoy-sepoy.”

Jawabku untuk menyairkan suasana.

“Bener enakkan jadi aku gak salah pilih tempat.hehe”

“Kamu kalau senyum manis juga.”

“Akh kamu malah gombal. Kamu udah punya pacar?”

“Hehe sedikit. Belum emang kenapa?”

“Gak Cuma nanya doang.hehe”

“Kamu selalu berkata hal yang gak pernah aku mengerti. Dasar bunga cewek aneh.haha” 

“Hahaha” Kita pun tertawa bersama saat itu.

“Cinta pertama, menurutmu cinta pertama itu rasanya seperti apa kamu tahu enggak?”

“Aku gak tahu karna belum merasakan tapi menurutku cinta pertama adalah cinta yang tak bisa dilupakan."

“Hmmmmm, Oh iya, apa yang kita lakuin hari ini aku minta maaf yah bikin malu dan repotin kamu.”

“Hmmmmm Iya gak masalah. Aku pikir hari ini bakalan jadi hari yang menyebalkan pertama ke monas tapi ternyata seru juga, dengan tingkahmu yang menyebalkan dan semua ini gak mungkin bisa untuk dilupain. Tapi lain kali jangan melakukan hal yang lebih aneh dari ini yah. Ayo kita pulang karna sepertinya akan segera hujan.” Aku pun memegang tanganmu lalu menarikmu untuk keluar.






“Kumbang, aku boleh minta tolong sesuatu enggak?” Tanyamu yang sedang duduk ditangga tempat pertama kali kita bertemu.

“Minta tolong apa?” Tanyaku karna penasaran.

“Tolong lupain apa yang kita lakuin hari ini, anggap aja semua ini hanya mimpi.”

“Hah maksudnya?” Tanyaku yang tak mengerti dengan perkataanmu.

“Ya lupain apa yang kita lakukan hari ini. Jika suatu saat waktu mampu mempertemukan kita lagi mungkin kamu akan mengerti tentang sesuatu.”

“Tentang sesuatu? Kamu malah bikin aku pusing aja wanita aneh.” Aku pun semakin tak mengerti apa yang kamu katakan hari itu.

“Suatu saat kamu akan menyadarinya. Wah hujan.” Katamu yang melihat keluar dan ternyata hujan begitu lebat dengan tiba-tiba.

“Kenceng banget hujannya ya. Eh iya Bunga. Baiklah kalau gitu, lagi pula aku gak tau nama atau pun tentang kamu jadi buat apa mengingat hari ini. Hari ini mungkin hari tersial dalam hidupku, karna bertemu orang aneh sepertimu yang tiba-tiba datang lalu mengaku pacar dan istriku.”

“Sepertinya saatnya untuk pulang, waktu menujukan jam 16.14.” Kamu pun melihat jam ditanganmu dan menghiraukan perkataanku saat itu.

“Eh, tapi di luar kan hujan, nanti aja nunggu reda, kalau sekarang kamu bisa sakit dan lagi kalau ada apa-apa denganmu gimana?” Tanyaku untuk melarangmu pulang ditengah derasnya hujan.

“Untuk apa kamu perhatian padaku, sedangkan kamu saudara bukan, pacar bukan dan kita bukan siapa-siapa. Jadi jangan sok perhatian. Udah yah aku pulang duluan.” Dengan bergegas kamu berlari melawan hujan yang begitu deras.



“Jika waktu mampu mempertemukan kita lagi, saat itu adalah saat yang paling aku tunggu. Dah.”



Kata itu adalah kata terakhir pertemuan kita yang kamu katakan sambil berlari, melambaikan tanganmu dan senyum yang khas yang mungkin aku rindukan sampai saat ini.









1 Tahun berlalu dari hari itu, janji kita untuk saling melupakan hari itu.

Aku tak pernah mampu melupakannya, dan apakah kamu mampu melupakannya atau kamu pun tak mampu melupakannya?

Aku merindukanmu,,, 

Apakah kamu juga merindukanku?


Seseorang yang aku sebut


“Bunga”





TO BE CONTINUE

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA :)

BAGIAN II 

Jual Gamis Pria Muslim 

0 komentar:

Posting Komentar